Rabu, 29 Februari 2012

Urutan Wali Nikah



membayar mahar nikah

Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengatakan,

Hubungan status wali nikah ada lima:

  1. Bapak dan silsilah keluarga diatasnya, mencakup ayah, kakek dari bapak dan seterusnya ke atas.
  2. Anak dan sisilsilah anggota keluarga dibawahnya, mencakup anak, cucu, dan seterusnya ke bawah.
  3. Saudara laki-laki.
  4. Paman dari pihak bapak.
  5. Wala’ (orang yang membebaskan dirinya dari perbudakan atau mantan tuan).
Jika ada beberapa orang yang berasal dari jalur hubungan yang sama (misalnya ada bapak dan kakek) maka didahulukan yang kedudukannya lebih dekat (yaitu bapak). Barulah kemudian beberapa orang yang kedudukannya sama, misalnya antara saudara kandung dengan saudara sebapak, maka didahulukan yang lebih kuat hubungannya, yaitu saudara kandung. (Syarhul Mumthi’, 12: 84)
Al-Buhuti mengatakan, “Lebih didahulukan bapak si wanita (pengantin putri) dalam menikahkannya. Alasannya, karena bapak adalah orang yang paling paham dan paling kasih sayang kepada putrinya. Setelah itu, orang yang mendapatkan wasiat (wakil) dari bapaknya (untuk menikahkan putrinya), karena posisinya sebagaimana bapaknya. Setelahnya adalah kakek dari bapak ke atas, dengan mendahulukan yang paling dekat, karena wanita ini masih keturunannya, dalam posisi ini (kakek) disamakan dengan bapaknya. Setelah kakek adalah anak si wanita (jika janda), kemudian cucunya, dan seterusnya ke bawah, dengan mendahulukan yang paling dekat. Ini berdasarkan hadis dari Ummu Salamah, bahwa setelah masa iddah beliau berakhir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang untuk melamarnya. Ummu Salamah mengatakan, “Wahai Rasulullah, tidak ada seorangpun dari waliku yang ada di sini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorangpun diantara walimu, baik yang ada di sini maupun yang tidak ada, yang membenci hal ini.” Ummu Salah mengatakan kepada putranya, “Wahai Umar, nikahkanlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umar pun menikahkannya. (HR. Nasa’i). Selanjutnya (setelah anaknya), adalah saudaranya sekandung, kemudian saudara sebapak, kemudian anak saudara laki-laki (keponakan) dan seterusnya ke bawah. Didahulukan anak dari saudara sekandung dari pada saudara seayah. Setelah itu barulah  paman (saudara bapak) sekandung, kemudian paman (saudara bapak) sebapak, anak lelaki paman (sepupu dari keluarga bapak). Selanjutnya adalah orang yang memerdekakannya (dari perbudakan). Jika semua tidak ada maka yang memegang perwalian adalah hakim atau orang yang mewakili (pegawai KUA resmi).
Sumber: Ar-Raudhul Murbi’, hal. 335 – 336
Keterangan:
  1. Berdasarkan keterangan di atas, tidak ada perwalian dari pihak ibu atau saudara perempuan. Seperti kakek dari ibu, paman dari ibu, saudara se-ibu, sepupu dari keluarga ibu, atau keponakan dari saudara perempuan.
  2. Ayah tiri tidak bisa menjadi wali.
Wajib memperhatikan urutan perwalian dalam nikah
Wali wanita yang berhak untuk menikahkan seseorang adalah wali yang paling dekat, sebagaimana urutan yang disebutkan di atas. Tidak boleh mendahulukan wali yang jauh, sementara wali yang dekat masih ada ketika akad nikah.
Ibn Qudamah mengatakan, “Apabila ada wali yang lebih jauh menikahkan seorang wanita, sementara wali yang lebih dekat ada di tempat, kemudian si wanita bersedia dinikahkan, sementara wali yang lebih dekat tidak mengizinkan maka nikahnya tidak sah. Inilah pendapat yang diutarakan as-Syafi’i…. karena wali yang jauh tidak berhak, selama wali yang dekat masih ada, sebagaimana hukum warisan (keluarga yang lebih jauh tidak berhak, selama masih ada keluarga yang lebih dekat).” (Al-Mughni, 7: 364)
Al-Buhuti mengatakan, “Jika wali yang lebih jauh menikahkannya, atau orang lain menjadi walinya, meskipun dia hakim (pejabat KUA), sementara tidak ada izin dari wali yang lebih dekat maka nikahnya tidak sah, karena tidak perwalian ketika proses akad, sementara orang yang lebih berhak (untuk jadi wali) masih ada.” (Ar-Raudhul Murbi’, 336)
Disadur dari: http://www.islamqa.com/ar/ref/150788
Contoh kasus:
1. Anak perempuan dari hasil hubungan zina
Anak dari hasil hubungan zina tidak memiliki bapak. Bapak biologis bukanlah bapaknya. Karena itu, tidak boleh dinasabkan ke bapak biologisnya. Dengan demikian, dia tidak memiliki keluarga dari pihak bapak. Siapakah wali nikahnya? Orang yang mungkin bisa menjadi wali nikahnya adalah
a. Anak laki-laki ke bawah, jika dia janda yang sudah memiliki anak
b. Hakim (pejabat resmi KUA)
Bapak biologis, kakek maupun paman dari bapak biologis tidak berhak menjadi wali.
2. Wanita yang orang tuanya dan semua keluarganya non muslim
Diantara syarat perwalian adalah keasamaan dalam agama. Orang kafir tidak berhak menjadi wali bagi wanita muslimah. Dalam kondisi semacam ini, yang bisa menjadi wali wanita adalah pejabat KUA.
Allahu a’lam.

Minggu, 26 Februari 2012

Bersyukur


Alhamdulillah.., ingin sekali terus menerus bersyukur dalam hidup ini karena setiap langkah-langkah ini terus diberi kemudahan-Nya. Untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Berusaha berjalan dengan tenang dan sabar memang bukan hal yang mudah. Namun, karena keikhlasan hati yang terus memotivasi diri untuk tetap kosisten. Terus berusaha menggapainya dan mencoba untuk merasakannya. Konsistensi yang membawa ketenangan hati dan keberhasilan diri… mari kita menggapainya..


Selalu bersyukur memang dapat menenangkan hati ini. Memang kita sebagai manusia banyak keinginannya, namun harus bersabar atas hal itu. Melihat sesuatu yang telah kita punyai lalu bersyukur atas hal itu. Selalu melihat yang ada di bawah kita, yang tidak mendapatkan apa yang kita peroleh saat ini. Dan, inilah salah satu alasan mereka yang kurang dari segi hartanya dapat menjalani hidup ini. Mereka tidak mau menyempitkan dunia ini dengan merasa kekurangan, tapi mereka ingin meluaskan dunia ini dengan usaha yang mereka lakukan setiap harinya. Begitu tenang dan begitu sabar menghadapi itu semua. Dan, perasaan itulah kenikmatan yang sebenarnya..

Ada beberapa perkara yang sulit tapi justru itu masih perkara dasar dalam berkehidupan.


 - Mempelajari ilmu itu sulit, tetapi mengamalkan ilmu itu lebih sulit


- Ibadah itu sulit, tetapi khusyu’ dalam beribadah itu lebih suli


-  Sedekah itu sulit, tetapi sedekah terhadap barang yang kita cintai lebih sul


-  Mencari ketenangan dan kegembiraan itu sulit, tetapi mempertahankan ketenangan dan kegembiraan tersebut itu lebih sulit.


-  Tersenyum itu sulit, tetapi senyuman untuk seseorang yang membenci kita itu lebih sulit


 -  Beramal itu sulit, tetapi amal yang dilakukan terus-menerus lebih sulit


 -  Syukur itu sulit, tetapi bersyukur dalam keadaan kekurangan itu lebih sulit

Yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana kita kreatif dalam beramal. Jadikan semua tempat, semua kejadian adalah sebagai ladang amal kita. Mungkin masih banyak lagi poin-poin seperti di atas, tetapi poin yang terakhir dari saya adalah :

“Mencintai manusia terlihat mudah, padahal mereka bukanlah yang memberikan semuanya..”

“Namun, mengapa mencintai yang telah memberikan semuanya itu lebih sulit..?”

“Dengan ruang lingkup Taqwa, mari kita terus berusaha mendekatkan diri kepada-Nya..”

Catatan sederhana...




Abu Darda` berkata, “Man ghaddha basharahu `ani-n nadhari-l harâmi zuwwija mina-l hûri-l `în haitsu ahabba, barangsiapa menundukkan pandangannya dari yang haram, ia akan dinikahkan dengan bidadari mana yang ia cinta.” (Risalatu-l Mustarsyidin, Haris al Muhasibi, Daru-s Salam).
Diantara tantangan terberat yang dihadapi para lelaki saat ini adalah menjaga pandangan mata dari melihat wanita yang tidak halal baginya. Bagaimana tidak? Berbagai media seperti Tv, surat kabar, dan internet selalu mempertontonkan aurat wanita. Tragisnya, kaum hawa ikut terpengaruh sehingga mereka tanpa malu membuka bagian tubuh yang tidak layak diperlihatkan kecuali kepada suaminya tercinta. Sekali lagi, tantangan ini sungguh berat. Terlebih bagi lelaki yang lemah iman, dan tidak memiliki pendirian kokoh. Rasululloh pernah bersabda kepada segenap wanita seusai khutbah Iedul Adha, “Mâ min nâqishâti aqlin wa dînin adzhaba li lubbi-r rajuli-l hâzimi min ihdâkunna, tidak ada orang yang kurang akal dan agamanya yang bisa melenyapkan akal lelaki yang berpendirian kuat selain daripada kalian, wahai para wanita.” Logikanya, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin rahimahullah ketika men-syarah riyadhu-s shalihin, kalau lelaki yang punya pendirian sedemikian kuat saja bisa tertaklukkan oleh wanita, apatah lagi dengan lelaki rendahan yang tidak memiliki pendirian, azzam, agama dan kejantanan, tentu lebih dahsyat lagi. Karena itulah, tulisan ini ditulis. Semata-mata untuk saling menasehati, di atas kebenaran dan ketakwaan. Insya’Allah.
Artikel ringan ini menjelaskan urgensi menjaga hati dengan menundukkan pandangan mata dari hal yang diharamkan. Merekalah lelaki yang dirindu bidadari di akherat kelak. Merekalah lelaki sejati yang mampu menaklukan dorongan hawa nafsunya sehingga dijanjikan jannah oleh sang pemilik hati hamba-hamba-Nya, Allah Ta’ala. Lihatlah betapa Allah menjanjikan jannah bagi mereka melalui firman-Nya, “Wa ammâ man khâfa maqâma rabbihi wa naha-n nafsa `ani-l hawâ fa inna-l jannata hiya-l ma`wâ. Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya, dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka jannah adalah tempat tinggalnya.” (an Nazi’at : 40-41). Karena orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dari memandang yang haram, adalah orang bertakwa; yang takut kepada keagungan Allah Ta`ala, “Wa li man khâfa maqâma rabbihi jannatân. Dan bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya ada dua jannah.” (ar Rahman : 46). Ya, dua jannah, semuanya diperuntukkan bagi orang yang takut kepada Rabb-nya. Takut yang menghalanginya untuk melihat apa yang tidak halal baginya. Tentang ayat ini, Mujahid berkata, “Yaitu orang yang ketika hendak melakukan maksiat, dia ingat akan kedudukan Allah, hingga ia tidak jadi berbuat maksiat.
Janji Allah ini tidaklah berlebihan. Sama sekali tidak. Innama-l jazâ`u min jinsi-l `amal. Balasan sesuai dengan amalan. Karena menundukkan pandangan dari apa yang diharamkan tidaklah mudah, bahkan sangat berat. Sufyan ats Tsauri dalam menafsirkan firman Allah, “Wa khuliqa-l insânu dha`ifâ, dan manusia diciptakan dalam kondisi lemah.” (an Nisa` : 28), menyebutkan, “Jika ada seorang wanita yang berjalan didepan seorang laki-laki, maka laki-laki tersebut tidak akan mampu untuk tidak melihatnya. Hatinya akan tertusuk oleh virus kecantikan wanita tersebut. Adakah sesuatu yang lebih lemah daripada ini?”
Menjaga Hati dengan Menjaga Pandangan Mata
Apa korelasi menjaga hati dengan menjaga pandangan mata yang diharamkan? Korelasinya sangat erat. Karena pandangan menghasilkan getaran hati, getaran hati menghasilkan pikiran, pikiran melahirkan syahwat, syahwat melahirkan hasrat dan hasrat melahirkan niat. Bila niat sudah kuat, maka yang dilarang akan terjadi dan jatuh dalam lembah maksiat.
Hati bagaikan sebuah rumah, dan mata adalah pintunya. Pencuri baru bisa masuk rumah jika pintunya terbuka. Jika masuk, pencuri itu akan mengambil perhiasan iman dan mutiara takwa, serta meninggalkan hati dalam keadaan berantakan. Gerakan pencuri ini sangat lincah. Dengan sigap, ia dapat menyelinap. Sehingga, ketika ditanya tentang pandangan yang sekejap saja, Rasululloh bersabda, “Palingkanlah pandanganmu.”
Karena mengumbar pandangan adalah dosa. Dosa yang akan membuat pelakunya malu untuk bersua Rabbnya. Di dalam al Fawa’id, Ibnul Qayyim al Jauziyah meneliti beberapa penyakit yang menyebabkan matinya hati. Dalam kesimpulannya, dia menetapkan beberapa pengaruh negatif dari dosa-dosa, “Sedikitnya pertolongan, salahnya pendapat, samarnya kebenaran, lemahnya ingatan, tersia-sianya waktu, kebencian orang lain, keterasingan antara hamba dengan Tuhannya, terhalangnya doa, kerasnya hati, hilangnya keberkahan dalam rizki dan umur, hilangnya ilmu, melekatnya kehinaan, kerendahan martabat di hadapan musuh, sempitnya dada dan lain sebagainya.”
Dari semua itu, yang tersisa hanyalah ketakutan untuk bertemu dengan Dzat yang Maha Adil, dan ketakutan akan hisab dan siksa. Oleh karena itu, aku sampaikan pesan Ibnul Jauzi, “Jauhkanlah diri anda dari dosa. Jika di dalamnya hanya ada ketakutan untuk bertemu (dengan Allah), maka itu sudah cukup sebagai siksaan. Saat yang paling indah bagi Nabi Ayyub adalah tatkala ia melihat lagi anaknya, Nabi Yusuf; dan saat yang paling sulit bagi saudara-saudara Yusuf adalah ketika bertemu dengan Yusuf.”
Lihatlah, betapa saudara-saudara Yusuf gugup dengan wajah memerah malu ketika orang yang ada didepannya berkata kepada mereka, “Qâla hal `alimtum mâ fa`altum bi yûsufa wa akhihi idz antum jâhilûn?” mereka berkeringat dingin mendengar pertanyaan dari lelaki yang kemudian diketahui sebagai saudaranya, Yusuf; adik yang berpuluh-puluh tahun yang lalu pernah mereka jeburkan ke dalam sumur. Kepala mereka tertunduk. Malu dan berasa bersalah. Dengan bibir bergetar mereka menjawab lirih, “Qâlu ainnaka la anta Yûsuf.”
Ah, ketika membaca jawaban saudara-saudara Yusuf ini, selalunya ada rasa aneh yang menyelusup dalam jiwa seolah bisa merasakan kekalutan jawaban mereka….., kalau hanya bersalah kepada manusia sudah membuat kita malu bertemu, lalu bagaimanakah kita meletakkan muka kita di hadapan Dzat yang mengetahui semua detail tingkah laku kita; besar-kecilnya, samar-jelasnya, tersembunyi-tampaknya….., tanpa ada sesuatupun yang luput dari-Nya? “Wa ma kana rabbuka nasiyya, dan Rabbmu tidak pernah lupa.” (Maryam : 64). Allâh…allahummaghfirlanâ wa tub alainâ…., ampuni kami ya Rabb
Belajarlah dari Mereka
Ikutilah jalan salafus shaleh. Segarkan dirimu dengan sejarah hidup mereka. Hidupkan hatimu dengan mengingat mereka. Dan ikutilah jejak mereka niscaya engkau akan menjadi manusia mulia; dihadapan Allah dan juga segenap manusia.
Rabi’ bin Khutsaim, murid Abdullah ibn Mas`ud yang paling mulia, selalu menjaga pandangan matanya. Pada suatu hari ada sekelompok wanita yang mengira bahwa Rabi’ adalah buta, kemudian mereka memohon perlindungan kepada Allah dari kebutaan;
Hasan ibn Abu Sinan. Selesai shalat `Ied, ada yang berkata kepadanya, “Kami belum pernah melihat shalat `Ied di mana jama`ah perempuannya banyak seperti ini.” Kemudian beliau menjawab, “Aku tidak bertemu dengan seorang wanita pun sampai aku pulang.”
Daud ibn Abdullah. Ketika sebagian pejabat Bashrah mencarinya, Daud bersembunyi di rumah salah seorang sahahabatnya. Sahabatnya itu memiliki istri yang dijuluki Zarqa (wanita bermata biru) yang berparas cantik. Ketika suaminya hendak keluar rumah, ia berpesan kepada Zarqa agar bersikap santun dan melayani Daud dengan baik. Setelah kembali ke rumah, sahabatnya tadi bertanya kepada Daud, “Bagaiman sikap Zarqa kepadamu?” Daud malah bertanya, “Siapa itu Zarqa?” sahabatnya menjawab, “Dia adalah ibu rumah ini (istriku).” Daud berkata, “Aku tidak tahu, apakah ia bermata biru atau bermata hitam.” Ketika sang suami melihat Zarqa, ia berkata kepadanya, “Bukankah aku sudah berpesan agar engkau bersikap santun dan melayaninya dengan baik? Mengapa engkau tidak melaksanakannya?” Zarqa menjawab, “Engkau menitipkan kepadaku lelaki buta. Sungguh, ia tidak pernah mengangkat kelopak matanya kepadaku.”
Muhammad ibn Sirin. Dengarkanlah pengakuan menakjubkan dari Muhammad ibn Sirin, “Aku tidak pernah menggauli wanita, baik di waktu jaga atau di waktu tidur (mimpi) selain Ummu Abdillah (istrinya). Jika aku melihat wanita di dalam mimpi, aku akan sadar bahwa dia tidak halal bagiku, maka aku memalingkan wajahku darinya.” Subhanallah, bravo `alaih….,
Beberapa contoh di atas adalah para lelaki sejati yang berhati bersih. Suci. Peka terhadap dosa, dan menghindari jerat-jerat dosa. Karena mereka sadar, kenikmatan bermunajat hanya bisa diraih dengan hati yang bersih. Pernah, ada yang bertanya kepada Wuhaib ibn Ward, “Apakah orang yang bermaksiat kepada Allah dapat merasakan lezatnya ibadah?” beliau menjawab, “Tidak, bahkan orang yang baru berniat melakukan maksiat pun tidak akan bisa merasakan lezatnya ibadah.”
Surat cinta dari Allah Azza wa Jalla
Karena cinta, Allah mengabadikan pesan menundukkan pandangan, dan menjaga kemaluan di dalam kitab-Nya. Sungguh ini merupakan bukti cinta-Nya. Cinta yang tulus dari sang Pencipta kepada yang dicipta. Tentu, surat cinta ini untuk kebaikan hamba-hamba-Nya. Allah berfirman, “Qul li-l mu`minîna yaghuddhû min abshârihim wa yahfadhû furûjahum dzâlika azkâ lahum innallâha khabîrun bimâ yashna`ûn, Katakanlah kepada orang-orang beriman, ‘Hendaklah mereka menjaga pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih mensucikan bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka perbuat.” (an Nuur : 30).
Tentang ayat ini, Au Hamid al Ghazali berkata, “Ketika aku merenungi ayat ini, meskipun ayatnya pendek, aku menemukan tiga makna berharga di dalamnya; pendidikan (ta`dîb), peringatan (tanbîh), dan ancaman (tahdîd).
Adapun pendidikan (ta`dîb) terdapat dalam, “Katakanlah kepada orang-orang beriman, ‘Hendaklah mereka menjaga pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka.” Sudah menjadi keharusan bagi seorang hamba untuk melaksanakan perintah tuannya dan patuh terhadap berbagai didikannya. Jika tidak, maka ia akan menjadi orang yang tidak beretika dan diperkenankan hadir dalam majlisnya, dan bersimpuh di hadapannya. Pahamilah point ini dengan baik.
Sedangkan peringatan (tanbîh) termuat dalam, “Yang demikian itu lebih mensucikan bagi mereka.” Ayat ini memililiki dua makna ; pertama, mensucikan hati mereka, dan kedua, membuat mereka lebih kaya dengan kebaikan. Karena, az zakah memliki arti bertambah (an numuw). Jadi diingatkan bahwa menjaga mata akan membersihkan hati dan memperbanyak ketaaatan. Alasannya, jika anda tidak menjaga mata dan membiarkannya liar, maka anda akan melihat sesuatu yang tidak berguna bagi anda. Dan sangat mungkin anda akan memandang sesuatu yang diharamkan. Jika anda melihatnya dengan sengaja. Anda mendapatkan dosa besar. Bisa jadi hati anda akan terpengaruh oleh apa yang anda pandang, dan anda akan binasa jika Allah tidak menyayangi anda.
Adapun makna ancaman (tahdîd) termaktub dalam penggalan ayat, “Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka perbuat.”
Renungan
Saudaraku,
Memandang sesuatu yang tidak halal akan mengisi pikiran dengan hal-hal haram. Sebaliknya, jika manusia berpikir tentang keagungan kerajaan Allah di langit dan di bumi, maka itulah ibadah paling utama yang akan meningkatkan takwa, keyakinan dan derajat di sisi Allah;
Memandang sesuatu yang tidak halal akan meninggalkan kesedihan setelah yang dipandang itu menghilang. Berbeda bila kesedihan itu lahir karena melihat kondisi orang-orang muslim yang terbantai di penjuru dunia karena membela dien mereka, maka itu adalah ikatan pertanda kokohnya iman dan ikatan persaudaraan, “Innama-l mu`minûna ikhwah, hanyasanya orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (al Hujurat : 10);
Memandang sesuatu yang tidak halal akan membuat manusia menghabiskan waktu untuk dosa dan maksiat. Keduanya adalah tiket menuju neraka. Sebaliknya, bila manusia menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah, maka ia akan memetik kebahagiaan dan kenikmatan memandang wajah Allah yang Mahaindah;
Memandang sesuatu yang tidak halal akan meneteskan airmata karena perpisahan dengan yang dicintai. Andai saja tetesan airmata itu karena takut kepada Allah, maka ia akan mendapatkan naungan di bawah Arsy Allah pada hari tidak ada naungan kecuali naungan Dzat yang Mahakasih;
Memandang sesuatu yang tidak halal akan mendorong kaki dan tangan bergerak kepada sesuatu yang sia-sia dan mengundang birahi. Jika tangan dan kaki digerakkan untuk berkhidmat kepada Allah dan menulis ilmu dan hadits, maka manusia akan mendapatkan ganjaran setimpal berupa pertemuan dengan sang guru sejati di jannah;
Bila engkau terpesona dengan kecantikan wanita dunia, maka bandingkanlah mereka dengan bidadari-bidadari jannah. Bidadari, Siapakah bidadari? Kecantikan wajahnya bagaikan sinar matahari. Andai saja ia turun ke bumi, maka bumi dan langit akan semerbak mewangi. Lisan manusia tidak kan berhenti berucap tahlil, takbir, dan tasbih kepada Allah. Cahaya matahari akan redup sebagaimana cahaya bintang-bintang di sekitar matahari. Orang yang berada di dekat matahari akan merasa nyaman dan damai. Jilbab yang yang menutupi kepalanya lebih baik dari dunia seisinya. Kulit tubuhnya memancarkan cahaya yang mampu menembus tujuh puluh pakaian. Jika saja Allah tidak menetapkan penghuni jannah untuk tidak mati, tentu mereka akan mati karena kecantikan para bidadari. Jika seorang wanita tersenyum kepada suaminya, maka jannah akan terang benderang karena senyumannya. Jika ia berjalan dari istana ke istana, maka ia bagaikan matahari ia bagaikan matahari yang tergeser di cakrawala. Dengan semua itu, mengapa anda mudah tergoda dengan bangkai?
Gambaran lebih indah tentang bidadari pernah ditulis oleh Ibnu Qayyim al Jauziyyah. Tulisnya,
“Jika kamu meminta mereka untuk menikah di jannah, mereka itu adalah para perawan yang mengalir pada tubuh mereka darah muda. Seperti bunga mawar dan buah apel yang tidak terbungkus dan seperti buah delima yang mulus. Matahari terbit dari wajahnya yang indah dan kilat menyambar di antara sela-sela giginya ketika tersenyum. Jika dia memeluk suaminya, dia akan memeluk seperti pelukan antara bumi dan matahari. Jika dia berbicara, pmebicaraannya seperti seorang yang bercengkerama dengan kekasihnya. Jika dipeluk, dia melekat seperti dua ranting yang saling bertautan.
Pipinya yang bening bisa digunakan untuk bercermin dan tulangnya yang putih kelihatan dari balik dagingnya, jika kulit dan dagingnya tidak tertutupi. Jika dia melihat dunia, maka antara langit dan bumi akan dipenuhi bau wanginya, sehingga mulut manusia akan senantiasa membaca tahlil, takbir dan tasbih. Apa yang ada di barat dan timur akan berdandan untuknya, dan setiap mata akan melihatnya dan terpejam untuk melihat selainnya. Cahayanya akan meredupkan cahaya matahari seperti matahari yang meredupkan cahaya bintang, dan akan beriman kepada Allah seluruh manusia yang ada di atasnya.
Jilbab yang ada di atas kepalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya, hasrat untuk menikahinya lebih besar daripada segalanya. Semakin lama waktu bertambah, dia akan kelihatan semakin cantik dan indah. Semakin hari akan semakin bertambah cinta dan erat. Dia tidak pernah haidh, melahirkan dan nifas. Suci dari kotoran, air ludah, kencing, air besar dan kotoran lainnya.
Kegadisannya tidak akan pernah hilang dan muda selamanya. Kecantikannya tidak pudar dan tidak ada rasa bosan untuk menggaulinya. Dia hanya ingin melayani suaminya dan tidak pernah tertarik pada selainnya dan sebaliknya, sehingga dia merupakan puncak ketenangan dan hawa nafsu.
Jika melihatnya akan menggembirakan dan jika diperintah untuk taat, dia pun mentaatinya. Jika suaminya meninggalkannya, maka dia akan menjaga diri dan keamanannya. Dia seorang perawan yang sebelumnya tidak pernah tersentuh oleh manusia atau jin, sehingga setiap kali melihatnya akan menimbulkan rasa gembira. Setiap kali berbicara dengannya, seakan di telinga dipenuhi permata yang indah. Jika dia telanjang (upss. Astaghfirullah…), seluruh istana dan ruangan penuh dengan cahaya.
Jika kamu bertanya tentang usia
Dia usianya masih sangat muda
Jika bertanya tentang kecantikan
Pernahkah kamu melihat matahari dan bulan?
Jika kamu bertanya tentang matanya,
Seperti warna paling hitam di tempat yang paling putih (sangat jelita)
Jika kamu bertanya tentang bentuk tubuhnya
Pernahkah anda melihat pohon yang langsing
Jika kamu bertanya tentang buah dadanya,
Ia seperti buah delima yang lembut
Jika kamu bertanya tentang warna kulitnya
Dia seperti yakut dan marjan
Bagaimana bayangan anda ketika wanita tersenyum di hadapan suaminya, maka jannah pun menjadi terang dengan senyumannya. Jika dia pindah dari satu istana ke istana yang lain, anda akan mengatakan matahari berpindah dari satu poros ke poros yang lainnya. Jika suaminya tiba, alangkah mesra sambutannya. Jika ia memeluk betapa hangat pelukannya.
Jika dia bernyanyi, suaranya terasa nikmat di telinga dan mata. Jika dia merayu dan merajuk, rayuan dan rajukannya terasa nikmat. Jika dia memeluk, tidak ada pelukan yang lebih hangat darinya. Dan jika dia memberi sesuatu atau menerima, tidak ada cara sebaik yang dilakukannya.”
Abu Darda` berkata, “Man ghaddha basharahu `an an nadhari al harami zuwwija min al huri-l `in haitsu ahabba, barangsiapa menundukkan pandangannya dari yang haram, ia akan dinikahkan dengan bidadari yang ia cinta.” (Risalah al Mustarsyidin, Haris al Muhasibi, Daru-l Salam).
Pertanyaannya, dimanakah lelaki-lelaki sejati yang ingin dirindui para bidadari itu, kini??
Sebagai penutup,
Saudaraku….., yakinlah dengan apa yang disabdakan oleh Rasul Mulia, Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, “Innaka lan tada`a syai`an ittiqâ’allâhi jalla wa `azza illa a`thâkallâhu khairan minhu,sungguh tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah yang Maha Agung dan Mulia, kecuali Dia akan memberimu sesuatu yang lebih baik darinya.” (HR. Ahmad, dan Syu`aib al Arna’uth berkomentar, ‘Sanadnya shahih”).
Apa balasannya? Pertanyaan ini dijawab oleh Ibnu Taimiyyah rahimahullah –sebagaimana yang dinukil oleh Syaikh Muhammad as-Salman dalam bukunya, Mawâridu-d dham`ân : 7/769-770. Beliau berkata, menundukkan pandangan dari rupa yang dilarang untuk dilihat, seperti wanita dan amrad ‘cantik’ (lelaki tampan yang tidak berjenggot), akan mewariskan tiga hal :
Pertama : mendapatkan kenikmatan dan kelezatan iman yang lebih manis dan lebih nikmat daripada apa yang ia tinggalkan karena Allah karena siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik;
Kedua : menundukkan pandangan akan mewariskan cahaya di hati dan firasat (yang tepat dan akurat);
Ketiga : memperoleh kekuatan, keteguhan dan keberanian di hati sehingga dia dikaruniai Allah kekuatan bashirah dan kekuatan hujjah.
NB : Artikel ini hanya diperuntukkan bagi penulis, tetapi semoga para pembaca –segenap ikhwan dan begitu pula para akhwat- juga mendapatkan manfaatnya. Ya, artikel ini tidak hanya untuk para ikhwan tetapi juga para akhwat, karena Allah berfirman, “Qul li-l mu`minîna yaghuddhû min abshârihim…,Katakanlah kepada orang-orang yang beriman, “Hendaklah mereka menjaga pandangan mereka.” (an Nuur : 30). Ayat ini umum, untuk ikhwan dan juga akhwat. Wallahu A’lam.
Akhukum fillah. Ibnu Abdul Bari el `Afifi.



PEREMPUAN BERCADAR | SEBUAH KISAH INSPIRATIF




Ada seorang lelaki yang berwajah tampan yang ketampanannya telah diakui di seantero negeri dan telah menjuarai hampir semua lomba yang mengedepankan ketampanan, selain itu lelaki itupun kaya raya karena itu ia pun menjadi angkuh dan sombong karena merasa dirinya hebat dan bisa mendapatkan segala sesuatu yang diinginkannya.

Suatu ketika sang lelaki tersebut ingin mencari wanita yang akan dijadikan sebagai kekasihnya, sang pria mengajukan syarat bahwa wanita tersebut harus membuat dia penasaran.

Akhirnya dia pun membuat pengumuman dengan berbagai cara mulai dari iklan di koran, radio, televisi, sampai baliho besar-besar dipasang bahkan di dunia mayapun dia posting, sampai-sampai seluruh dunia mengetahui adanya sayembara tersebut.

Banyak sudah wanita, baik yang masih gadis sampai yang sudah berumur dari berbagai latar belakang kehidupan mencoba peruntungan mereka, tetapi semuanya harus pulang dengan kecewa karena tidak ada satu pun dari mereka yang diterima. Entah apa gerangan yang dicari sang lelaki tersebut.

Suatu saat di pagi hari yang cerah tepatnya hari ke sebelas di bulan ke delapan datanglah seorang perempuan untuk mencoba menjadi kekasih sang lelaki tampan dan kaya tersebut. Perempuan tersebut "Bercadar". Sang lelaki heran melihat perempuan bercadar tersebut, dia bertanya-tanya bagaimanakah bentuk wajah yang tersembunyi di balik cadar itu….

Sang lelaki itupun meminta sang perempuan untuk membuka cadarnya. Tetapi sang perempuan berkata, dia tidak akan membuka cadarnya dengan alasan apapun kecuali setelah 6 bulan kalau dia diterima. Tergelitik akan rasa penasaran dan nurani yang terusik akan keputusan apa yang harus diambil karena di satu sisi lelaki ini ingin mengetahui apa yang terjadi di bali cadar, tetapi di sisi lain dia tidak mau mengambil resiko menjalani hari-hari hidup sebagai pasangan kekasih dengan orang yang tidak jelas seperti ini.

Sang perempuan pun memohon dan meminta dengan sangat agar diberi kesempatan untuk bisa membuktikan bahwa dia bisa jadi pasangan si lelaki….. Setiap saat baik secara langsung maupun via sms dan telepon si perempuan selalu berharap, meminta dan memohon kepada sang lelaki.

Akhirnya karena rasa penasaran dan belas kasihan, dengan sangat berat hati dan sangat terpaksa akhirnya dengan ogah-ogahan diterimalah si perempuan ini. Walaupun sebenarnya sang lelaki memang penasaran dengan identitas sang perempuan. Akhirnya sang lelaki berkata, "Karena kamu sudah memohon-mohon dan meminta-minta, maka aku terima walaupun dengan berat hati". Akhirnya perempuan bercadar menjadi kekasih sang lelaki mulai hari ini sampai enam bulan ke depan.

Sang lelaki-pun menjalani hari-hari hidupnya bersama perempuan bercadar tersebut, setiap kemana-mana dia selalu merasa malu karena melihat pandangan orang yang seolah bertanya-tanya mengapa pria setampan itu berjalan dengan perempuan yang memakai cadar? Ada apa gerangan? Apakah sang perempuan itu malu berada didekat sang lelaki? atau apalah pendapat orang banyak...

Lelaki itu jelas menunjukan keengganannya bersama si perempuan apalagi di area publik, tetapi sang perempuan setiap kesempatan bersama selalu menunjukan perhatiannya sebagai seorang kekasih walaupun selalu tidak dianggap oleh sang lelaki.

Hari demi hari berlalu dengan rutinitas yang sama, sang pria merasa waktunya sangat lama berlalu menuju bulan ke enam sehingga dia segera dapat memuaskan rasa penasarnnya melihat wajah di balik cadar. Tetapi sang perempuan tetap setia, baik menunjukan perhatian dan kasih sayangnya kepada sang lelaki.

Akhirnya batas waktupun selesai, hari terakhirpun tiba.

Sang lelaki berkata, "Akhirnya aku bisa bebas dari kamu!", perempuan bercadar berkata, "Enam bulan aku sudah berusaha untuk menjadi kekasihmu dengan melakukan yang terbaik tetapi engkau tidak pernah menghargainya, terima kasih sudah memberi kesempatan untuk menjadi pasanganmu, maafkan jikalau aku tidak seperti yang kau harapkan". "Di hari ini", lanjut sang perempuan, "Seperti janjiku aku akan membuka cadarku".

Dan persis dihadapan sang lelaki, perempuan bercadar membuka cadarnya.
(Suasana sunyi senyap…keheningan terjadi beberapa waktu lamanya )
(Sang lelaki terperangah, terkejut, bengong seolah tak mempercayainya)

Ada apakah gerangan yang terjadi???

Di balik cadar sang perempuan.. Di balik topeng-topeng kehidupan yang selama ini diperankan, maka inilah lebih kurang deskripsi sang Perempuan bercadar tersebut:

“Wanita berkulit putih yang sangat mulus, dengan tinggi 169 cm dan berat badan 55 kg, ukuran-ukuran yang sangat proporsional, berwajah sangat cantik dan manis dengan senyuman yang sungguh menawan dengan rambut hitam bergelombang yang sangat indah, seolah-olah wajah dan tubuh yang diciptakan tanpa celah”

Sang perempuan berkata, "Engkau sudah menepati janjimu enam bulan bersamaku dan aku sudah menepati janjiku membuka cadar ini". "Sekarang urusan kita selesai, aku harus pergi, selamat tinggal".

Sesaat sang lelaki terperangah dan mulai memohon, meminta dan berharap agar si perempuan tak meninggalkan dirinya. Berhari hari... berkali-kali sang lelaki meminta, memohon dan berharap kepada sang perempuan supaya kembali bersamanya. Tetapi sang perempuan hanya diam.... menatap... tersenyum dan......

(Hanya sebuah catatan kecil dari suatu sisi kehidupan)

“Hargailah orang yang memberi perhatian kepada kita sekecil apapun itu, jangan sampai kita menyesalinya dikemudian hari”


Read more: http://priawadi.blogspot.com/2011/12/perempuan-bercadar-sebuah-kisah.html#ixzz1nZU3ZCTN

♥●• Ayah, Ibuku Tercinta…Izinkan Ananda Bercadar •●♥


بِسْــــــ…ــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمِ
… Cadar… Satu kata yang dulu sempat membuat diriku takut untuk mendekati orang-orang yang memakainya. “Mungkin mereka jelek, makanya menutupi wajahnya, atau mungkin dia mempunyai gigi taring seperti drakula ataukah mungkin dia..begini..begini dan begitu”. Begitu banyak pikiran-pikiran yang menghantuiku ketika masih menjadi orang yang belum tahu tentang syari’at Alloh tentang cadar ini.
Sampai suatu ketika Alloh menakdirkanku untuk mengenal sekumpulan akhwat yang bercadar, “subhanalloh” satu kata yang terlontar dari lisanku waktu itu. Ternyata mereka tidak seperti yang aku pikirkan selama ini, ternyata cadar merupakan salah satu syari’at dari islam.
Berawal dari perkenalanku dengan para akhwat, disitulah awal mula diriku mengenal ilmu yang shohih, hari-hari kujalani dengan ilmu-ilmu yang yang selama ini kuanggap hanya sebatas budaya dan pemikiran orang-orang belaka. Sedikit demi sedikit kuamalkan ilmu yang telah kudapatkan, pergaulan antara lawan jenis, musik, ikhtilath, sampai ke syarat-syarat jilbab yang syar’i pun kulalui dan kuamalkan. Alhamdulillah, meski banyak rintangan dan cobaan dalam mengamalkannya. Tapi begitulah perjuangan. Begitulah konsekuensi dari amalan yang telah kita ilmui. Tapi untuk masalah cadar, ah, diriku sungguh tak tertarik untuk menggunakannya.
Sempat mempelajari tentang hukum dari cadar dan waktu itu berkeinginan untuk mempelajarinya lebih dalam, tapi teringat akan ucapan bapak, “kamu boleh pakai jilbab yang besar tapi jangan sampai bercadar. Nanti boleh bercadar kalau sudah nikah.” Ya sudahlah mendingan aku ambil hukum yang sunnahnya saja, daripada bapak marah. Toh nanti kalau dah nikah aku akan pakai cadar juga insya Alloh, untuk sekarang ga usahlah, pikirku dalam hati. Akhirnya niat untuk mempelajari hukum cadar lebih lanjutpun aku urungkan.
“Astghfirulloh, apakah jilbab yang sudah cukup lebar ini masih bisa saja menimbulkan fitnah bagi seorang laki-laki?”
Manusia boleh berencana tapi Alloh lah yang berhak menentukan jalan hidup kita. Alhamdulillah, hidayah Alloh datang kepadaku, yang awal mulanya diriku begitu kekeh untuk tidak bercadar, niat untuk mempelajari hukumnya pun ogah-ogahan, namun Alloh menakdirkan padaku untuk lebih mengetahui tentang cadar ini melalui sebuah fitnah yang kualami di kampus. Seorang teman memberitahukan padaku bahwa ada seseorang yang terfitnah gara-gara diriku. “Astghfirulloh, apakah jilbab yang sudah cukup lebar ini masih bisa saja menimbulkan fitnah bagi seorang laki-laki?” Airmatapun mulai mengalir, bukan karena terharu disebabkan ada orang yang “ngefans” tapi karena merasa bahwa diri ini adalah sumber fitnah. Belum bisa menyempurnakan hijab, tidak bisa menjaga diri, dll. Lama diriku merenung. “Kenapa sampai ada yang terfitnah? Toh aku tak pernah berkomunikasi dengannya? Jangankan berbicara, senyumpun tak pernah.” Apa yang menyebabkan semua itu??Apa??? Wajah… Ya inilah sumber dari fitnah itu… Seketika itu pun diriku bertekad dengan kuat untuk mempelajari hukum cadar, walaupun masih teringat dengan kata-kata bapak, namun tak mengurungkan niatku untuk belajar..
Alhamdulillah, Alloh memudahkan jalanku untuk mempelajari ilmu tentang cadar ini, mulai dari dukungan akhwat, cerita cerita akhwat yang memberikan motivasi, buku-buku yang mereka pinjamkan, sampai ketika salah seorang ustadzah dari Arab datang ke kota Serambi Madinahku buat memberikan dirosah. Sampai suatu hari ketika sang ustadzah telah selesai memberikan dirosahnya, kulihat dirinya sedang duduk untuk istirahat, aku pun mengajak seorang kakak untuk menemaniku berbicara kepada ustadzah tentang masalah cadar (karena ketidaktahuanku bercakap dalam bahasa arab, makanya minta tolong ke akhwat buat jadi penerjemahnya. Syukron wa jazaakillahu khair buat kakak yang membantu diriku saat itu.)
Kakak : “Adik ini ingin bertanya kepada anda wahai ustadzah, dia ingin sekali memakai cadar namun orangtuanya melarangnya, tolong berikan nasehatmu padanya.”
Ustadzah: “Kalau dia meyakini bahwa hukum cadar adalah wajib maka apapun konsekuensi yang harus dia dapatkan sekalipun orangtua melarang maka dia tetap harus memakainya, tapi ketika dia meyakini bahwa itu hanyalah sunnah maka lebih baik dia mengikuti permintaan orang tuanya.” (Kira-kira seperti itulah percakapan mereka kalau diterjemahkan dalam bahasa indonesia.)
Sampai suatu ketika keyakinanku mengatakan bahwa cadar itu adalah sebuah kewajiban.
Hemm. Ternyata, point yang kudapatkan dari pernyataan ustadzah adalah “ilmu sebelum berbuat”. Ya, aku harus mempelajarinya lagi lebih dalam tentang cadar (waktu itu aku masih menganggapnya sebatas sunnah). Hari-haripun kulalui dengan berusaha mencari tahu tentang hukum cadar. Mulai dari bertanya ke ustadz, bertanya ke akhwat dan berbagai cara kutempuh untuk mengetahui hukum sebenarnya dari cadar. Sampai suatu ketika keyakinanku mengatakan bahwa cadar itu adalah sebuah kewajiban. Tapi bagaimana dengan orangtua? Inilah ujianku selanjutnya. Aku harus berusaha memahamkan kepada mereka sedikit. Akhirnya akupun berusaha menutupi wajah ini sedikit demi sedikit, walaupun belum menggunakan cadar tapi wajah ini sering kututup dengan jilbabku ketika ada seorang laki-laki ajnabi yang lewat dihadapanku. Dan ini berlangsung sampai beberapa hari.
Suatu hari tiba-tiba keluargaku berkumpul di ruang keluarga, bapakku tiba-tiba mengatakan padaku, “bapak ga mau lihat kamu pakai cadar.” Tiba-tiba suasana di rumah menjadi tegang (ternyata selama ini bapak memperhatikanku, karena begitu seringnya aku menutup wajahku dengan jilbab yang kupakai, sampai beliau mengira bahwa aku telah bercadar waktu itu.) Bapak dengan berbagai ucapannya sambil menunjuk-nunjuk ke arahku mengatakan, “bapak ga mau kamu pakai cadar!!!”
“Apapun alasannya, bapak ga mau kamu pakai cadar. Kalau sampai pakai cadar, kamu jadi anak durhaka sama bapak!!!”
“Ga usah suruh temanmu kesini lagi, kalau ada temanmu yang datang, bapak akan usir.”
Bla..bla..bla… Berbagai macam perkataan bapak pada diriku saat itu.” Aku bisa paham terhadap ucapan bapak, karena memang beliau kurang paham apalagi beliau jarang bermulazamah dengan ustadz-ustadz. Tapi yang membuatku begitu sedih adalah ketika ibuku mendukung argumen bapak dan juga ikut-ikutan memarahiku dan melarangku. Aku kaget, karena yang selama ini aku tahu bahwa ibu mengenal beberapa ustadz dan teman-temanku yang bercadar. Pikirku waktu itu, ibu mungkin setuju-setuju saja pada saat aku bercadar. Tapi ternyata, ibuku pun melarang dan ikut-ikutan memboikotku.
Pada hari itu, bertepatan dengan perginya bapak kembali berlayar, sebelum beliau berangkat beliau datang ke kamarku dan mendapati diriku yang hanya bisa menangis tersedu-sedu dan mengatakan, “Ingat, bapak ga mau kamu pakai cadar!!!” Ya Alloh, sekeras itukah hati bapak, sampai tidak mau mendengarkan penjelasanku tentang cadar, pikirku dalam hati.
Teringat dengan kisah-kisah beberapa akhwat yang juga sempat mengalami kejadian yang sama.
Hari pertama sejak peristiwa malam itu kulalui dengan tangisan di kamar. Menangis, menangis, dan terus menangis. Satu hal yang membuatku begitu sedih ketika melihat sikap ibuku padaku, dulu ketika ada sebuah masalah yang kuperbuat di rumah hingga membuatku menangis tersedu-sedu. Ibu biasanya langsung datang menghiburku dan mengatakan, “sudahlah nak, nda usah menangis lagi.” Tapi sekarang, seakan-akan beliau bukan ibuku, sikapnya yang keras dan cuek saja melihat diriku menangis tetap tidak mengubah pendiriannya untuk melarangku bercadar. Jangankan berbicara padaku, bahkan hanya sekedar menyuruhku makan, beliau menyuruh adikku datang ke kamar. Yang bisa kulakukan saat itu hanya menangis dan berdoa pada Alloh. Namun aku yakin bahwa ujian ini akan segera berakhir, entah sehari, sepekan, sebulan, setahun bahkan bertahun-tahun, ya pasti akan berkahir!! Teringat dengan kisah-kisah beberapa akhwat yang juga sempat mengalami kejadian yang sama. Ada yang menyembunyikan cadarnya hingga dua tahun lamanya. Ada yang hampir diusir oleh orang tuanya. Ada yang cadarnya dibakar. Dan berbagai macam ujian yang dihadapi mereka. Namun toh akhirnya orang tua mereka mengizinkan bahkan sekarang mendukung anaknya..
Hey, kamu baru diuji seperti ini, masa mau nyerah begitu saja. Apa ga ingat gimana perjuangan Rosululloh dan para shahabatnya ketika memperjuangkan islam??? Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diusir oleh kaumnya sendiri, kaki beliau berdarah-darah karena dilempar batu. Para shahabat, bahkan ada yang rela tidak diakui oleh ibunya sendiri. Dan kamu ingat Sumayyah? Wanita syahidah pertama yang rela disiksa oleh orang-orang kafir karena memeluk islam, hingga beliau menemui ajalnya. Sekarang lihat dirimu??? Kalau cobaan ini saja bisa membuatmu menyerah dan jauh dari Alloh. Kira-kira ketika kamu hidup pada zaman nabi, apa kamu bisa menjadi salah seorang shahabiyah? Ataukah kamu adalah salah seorang musuh dari islam?
Akupun tersadar setelah melakukan dialog dengan diriku sendiri, segera aku ambil air wudhu dan sholat. Dalam sholat kubaca Surah An-Nashr “innama’al ‘usri yusro..fainnama’al ‘usri yusro” rasanya keyakinan akan pertolongan Alloh semakin dekat itu begitu kuat. Ya, pertolongan itu akan datang fikirku.
Sampai hari ketiga, keadaan di rumah masih tetap sama. Ibu juga nenekku masih memboikotku. Aku masih saja berada dalam kamar sambil memikirkan cara untuk meminta izin kembali ke bapak. Tiba-tiba teringat akan cerita salah seorang kakak. Ketika dia ingin mengutarakan keinginannya memakai cadar kepada orangtuanya, “dek, dulu waktu ana ingin bercadar, orangtua melarang. Namun karena kayakinan yang mantap untuk menutup aurat secara sempurna, akhirnya kutempuh berbagai cara meyakinkan bapak. Dan cara yang kupilih adalah mengirimkan surat ke beliau dengan kalimat yang syahdu, “wahai ayahku. Kutulis surat ini, bla..bla..bla. (Afwan, lupa isi suratnya.)”
Hemmm. Tiba-tiba cara yang ditempuh sang kakak tadi, terlintas di dalam pikiranku. Tapi bukan melalui surat, hanya sms yang bisa kukirimkan kepada bapakku untuk menjelaskan kenapa aku ingin bercadar.
“Assalamu’alaikum, pak kabarnya gimna? Semoga bapak baik-baik saja. Maaf sebelumnya jika saya lancang sms bapak, tapi saya sms hanya ingin menjelaskan kenapa saya ingin bercadar. Maaf pak, bukannya saya ingin menjadi anak yang durhaka karena tidak mematuhi perintah bapak, tapi karena keinginan saya yang ingin mengikuti perintah Alloh makanya saya berani untuk memakai cadar. Saya begitu sedih ketika melihat ekspresi bapak yang begitu marah ketika mengetahui bahwa saya ingin bercadar, seakan-akan bapak sangat membenci cadar. Saya tidak ingin bapak seperti itu, karena cadar juga merupakan bagian dari syari’at islam. Dan yang saya pelajari bahwa istri-istri nabi pun pakai cadar, kalau bapak benci cadar artinya bapak juga benci istri-istri Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bla..bla..bla…
Sms yang kukirm begitu panjang, 1 sms sampai 7 layar dan aku mengirimkan sebanyak 3 kali sms. Jadi kalau mau dihitung. Kira-kira aku mengirim sebanyak 21 sms ke bapak.
Beberapa saat setelah kukirimkan sms ke bapak, tiba-tiba ada sms yang masuk ke hp-ku, tapi belum berani kubuka isinya. Sampai akhirnya hpku berdering, ketika kulihat nama yang memanggil ternyata adalah bapakku. Sambil deg-degan kuangkat telpon bapakku, dan siap menerima omelan dari bapak lagi karena kelancanganku untuk meminta izin memakai cadar.
Aku : “Assalamu’alaikum.”
Bapak: “Wa’alaikumsalam, lagi dimana nak???”
Aku: “Di rumah pak. Lagi di kamar.”
Bapak: “Kamu masih nangis??”
Aku: “I..i..iya pak. (Sambil menghapus airmata.)
Bapak: “Bapak dah terima sms dari kamu. Kamu beneran mau pakai cadar???
“Aku: “I..i..iyya pak..”
Bapak: “Ya udah…kalau mau pakai cadar, pakai cadar saja. Asal hati harus lembut ya nak…
“Aku: “Hah??” (Dalam keadaan yang masih belum percaya, tiba2 sikap bapak berubah 180 derajat.) Beneran pak??”
Bapak: “Iya nak… mana mamamu? Bapak mau bicara.”
Akhirnya bapak bicara ke ibu, dan dari percakapannya ibu mengatakan kalau bapak mengizinkan aku pakai cadar. Ibu dilarang untuk melarangku bercadar. Masih belum percaya dengan keputusan bapak, akupun membaca sms yang dikirimkan bapak kepadaku sesaat sebelum beliau menelponku, “ya udah kalau kamu mau pakai cadar bapak izinkan, ingat ya, hati harus lembut..janji ya..” Alhamdulillah, bapak benar-benar mengizinkanku.
Dan akhirnya. Bismillah. Tepat tanggal 5 Ramadhan, aku pun keluar dari rumah pertama kali dengan menggunakan cadar yang menutupi wajahku. Tak henti-hentinya aku mengucapkan syukur di atas angkot dan airmata terus saja mengalir karena akhirnya pertolongan Alloh datang juga setelah 3 hari diriku harus menangis di kamar tanpa henti. Diboikot oleh orang tua sendiri. Yaa, akhirnya akupun memakainya. Semoga pakaian ini akan terus kukenakan hingga ajal menjemput. Amin, Allohumma amin. “yaa muqallibal qulub tsabbit qalbi ‘ala diinik.“
***Seperti yang dikisahkan seorang akhwat***